
Danis Sugiyanto, S.Sn., M.Hum., dosen sekaligus Kepala Jurusan Karawitan ISI Surakarta, mendapatkan kesempatan bergengsi ketika terpilih sebagai Fulbright Scholar-in-Residence di University of Richmond, Virginia, pada tahun 2018. Selama satu semester, ia menjadi pengajar tamu di Department of Music untuk memperkenalkan gamelan Jawa dan musik keroncong kepada mahasiswa serta komunitas kampus melalui kelas, latihan ensambel, hingga pertunjukan publik. Pihak kampus bahkan secara resmi menyebutnya sebagai “Pak Danis Sugiyanto dari ISI Surakarta”, pengajar Javanese gamelan—musik tradisi Indonesia berbasis instrumen perkusi.
Akar Musikal yang Kuat
Perjalanan ini tidak muncul tiba-tiba. Danis tumbuh di lingkungan Mangkuyudan, Surakarta, yang kaya tradisi keroncong. Sang ayah, Sugiman, adalah seniman karawitan dan pemain kendang ternama. Danis kemudian menempuh pendidikan Karawitan di STSI (kini ISI Surakarta) dan melanjutkan studi magister di UGM. Kariernya berkembang di tiga ranah utama: gamelan Jawa, keroncong, dan musik kontemporer, serta aktif berkolaborasi dengan berbagai seniman, termasuk Waljinah, Swastika, hingga teater internasional La Galigo.
Menghidupkan Gamelan di Richmond

(Foto: Courtesy of Danis Sugiyanto)
Selama di Richmond, Danis tidak hanya mengajar, tetapi juga terlibat aktif dalam ekosistem gamelan lokal, terutama melalui Gamelan Raga Kusuma, ensambel komunitas yang terhubung dengan University of Richmond. Ia memimpin latihan, menggarap aransemen, dan tampil di berbagai konser. Ia juga turut dalam tur musikal bersama grup Rumput ke Cornell University, Baltimore, Washington DC, hingga proyek tur Akar bersama penyanyi keroncong Endah Laras.
Pengalamannya ini menjadikan Danis penghubung penting antara seni tradisi ISI Surakarta dan para pemerhati musik Nusantara di Amerika Serikat.
Keroncong dalam Dialog Budaya

(Foto: Courtesy of Danis Sugiyanto)
Identitas musikalnya sebagai pengkaji keroncong progresif ikut ia bawa ke Amerika. Mengutip laporan VOA Indonesia, Danis berkolaborasi dengan musisi lokal untuk mengeksplorasi bentuk baru keroncong, memadukannya dengan unsur folk dan eksperimen bunyi. Fulbright Indonesia bahkan menilai karya-karyanya sebagai contoh nyata “menghubungkan budaya lewat keindahan suara keroncong” (Sariwati, 2021).
Ia diperkenalkan bukan hanya sebagai pengajar gamelan, tetapi juga sebagai komponis dan pemain keroncong yang menjembatani tradisi Jawa dan Virginia melalui musik lintas budaya.
Dampak bagi ISI Surakarta
Program Fulbright ini tidak hanya memperkuat rekam jejak internasional seorang dosen ISI Surakarta, tetapi juga membuka peluang jejaring akademik dan artistik bagi kampus—mulai dari riset, residensi, hingga kolaborasi seni. Melalui program ini, gamelan dan keroncong kembali hadir sebagai bahasa pertemuan antarbudaya yang memperkaya hubungan Indonesia–Amerika.



